.:: Website Sekolah Tinggi Ilmu Agama (STIA) Alma Ata Yogyakarta ::.

Menggali Potensi Guru Idola Dalam Pendidikan Karakter PDF Print
Written by Nurul   
Tuesday, 10 January 2012 12:45

Sabtu, 7 Januari 2012 STIA Alma Ata Yogyakarta mengadakan acara Pumping Teacher dengan mengangkat tema “Menggali Potensi Menjadi Guru Idola Dalam Pendidikan Karakter.” Menurut Ahmad Yunadi, SE., MA., acara yang diselenggarakan di Ruang Teater Kampus Terpadu Perguruan Tinggi Alma Ata ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang lebih kepada para guru, karena selain berperan sebagai pendidik untuk mencerdaskan dan meningkatkan kemampuan intelektualitas, guru juga berperan sebagai pemberi teladan dan budi pekerti kepada peserta didiknya. Oleh karena itu pendalaman pendidikan karakter sangat diperlukan untuk menjadi guru idola.

Sebagai pembuka pada acara yang berlangsung

 mulai pukul 12.00 WIB, Ahmad Salim, M.Pd. selaku moderator sekaligus sebagai dosen tetap STIA Alma Ata dalam acara tersebut memaparkan bahwa, salah satu faktor ketidakberhasilan pendidikan di Indonesia adalah adanya ketidakseimbangan pada domain pendidikan yang dipakai dalam hal ini adalah domain kognitif, afektif, dan psikomotor. “Kebanyakan kurikulum pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada domain kognitif , akibatnya banyak sekali lulusan yang lulus dengan nilai sangat baik dari segi akademik, namun tidak berhasil dalam kehidupan nyata atau bahkan di dunia kerja.” Tandasnya.

Menyadari akan hal  itu, pemerintah mulai tahun 2010 berusaha memasukkan pendidikan karakter dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, oleh karena itu acara ini diselenggarakan juga dengan maksud agar para guru dapat belajar menyusun kurikulum yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berdasarkan pada nilai-nilai karakter bangsa.

Dalam kesempatan presentasinya Prof. Dr. Anik Gufron, Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta sebagai narasumber utama menyampaikan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang berkarakter. Salah satu indikator kemajuan Negara dapat dilihat dari karakternya. Di Indonesia sendiri kasus-kasus pelanggaran HAM seperti di Mesuji, dan penembakan di Aceh menjadi sebuah indikasi bahwa karakter bangsa ini sudah mulai dipertanyakan. Padahal Indonesia disebut-sebut sebagai Negara yang cinta damai.

Melihat dari kenyataan itu, tentunya pendidikan karakter sangat penting diterapkan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Sesungguhnya Indonesia telah mengembangkan dan menerapkan desain kurikulum yang diarahkan pada pengembangan kepribadian melalui penanaman nilai-nilai luhur bangsa. Akan tetapi, pada kenyataannya implementasi kurikulum belum memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan kepribadiannya.

Menurut Dosen Pengajar Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta, permasalahan tersebut terjadi disebabkan oleh tiga faktor yaitu kurangnya kualitas desain kurikulum dari segi substansi maupun metodologinya. Yang kedua adalah masih rendahnya kompetensi guru dimana guru tidak mampu memunculkan inovasi dalam implementasi kurikulum. Dan yang terakhir adalah Kebijakan pemerintah yang belum terintegrasi. Hal ini ditandai dengan belum maksimalnya perwujudan kebijakan peningkatan mutu pendidikan. Belum maksimalnya implementasi kebijakan  tersebut juga berdampak pada beberapa guru yang masih diperlakukan sebagai pelaksana daripada sebagai pengembang kurikulum.

Memahami permasalahan tersebut, agar diperoleh kualitas implementasi KTSP yang memadai, maka para guru dituntut untuk terlebih dahulu memahami konsepnya. Bagaimana mengembangkan KTSP bermuatan nilai-nilai karakter bangsa, terutama untuk kepentingan karakter bangsa? Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menyusun perangkat KTSP yang berdasarkan nilai-nilai karakter bangsa, karena hal tersebut memungkinkan kepribadian peserta didik dapat dikembangkan secara optimal dalam kegiatan pembelajaran.

Dengan agenda pemaparan cara praktis penyusunan KTSP berdasarkan value education, diskusi, serta sesi motivasi yang disampaikan oleh TIM Motivator dari STIA Alma Ata Yogyakarta acara yang berlangsung hingga pukul 17.00 WIB ini membawa harapan bahwa guru-guru yang telah mengikuti acara pumping teacher di Alma Ata bisa belajar menjadi guru yang diidolakan bukan hanya oleh peserta didiknya tetapi oleh seluruh lapisan masyarakat, sebagai pencetak generasi penerus bangsa yang berkarakter. (Nurul/ Humas)

Last Updated on Wednesday, 11 January 2012 00:59
 

Unit Layan Cepat

Kami siap membantu anda

Punya kendala seputar info tentang STIA Alma Ata ? silahkan pilih salah satu jalur ini

(0274)   (0274) 434 2288, 434 2270

stia[at]almaata.ac.id   stia[at]almaata.ac.id